Semua orang tahu Gili Trawangan. Namanya sudah terlalu sering disebut sampai terasa seperti kewajiban yang harus diselesaikan setiap kali ke Lombok. Dan memang benar Gili Trawangan punya pesonanya sendiri yang sulit dibantah.
Tapi ada dua nama yang jarang masuk ke percakapan wisatawan, yang aku temukan secara tidak sengaja dari obrolan panjang dengan seorang pengemudi ojek di Mataram tiga tahun lalu. Dia menyebutnya sambil lalu, seolah sudah jelas semua orang pasti tahu. "Kalau mau snorkeling yang beneran bagus dan sepi, pergi ke Gili Nanggu sama Gili Sudak. Di sana belum ada keramaian."
Aku catat namanya di notes ponsel, lupa beberapa bulan, lalu teringat lagi menjelang trip Lombok berikutnya.
Dan itulah awal dari perjalanan yang sampai sekarang masih aku rekomendasikan ke siapapun yang bilang sudah bosan dengan rute Lombok yang itu-itu saja.
Gili yang Berbeda dari yang Kamu Bayangkan
Gili Nanggu dan Gili Sudak berada di kawasan Sekotong, Lombok Barat bukan di utara seperti Gili Trawangan, Air, dan Meno yang sudah terkenal itu. Posisinya di selatan, menghadap Selat Lombok, dan aksesnya dimulai dari Pelabuhan Tawun yang lokasinya sekitar 50 kilometer dari Mataram.
Dua pulau kecil ini punya karakter yang sangat berbeda dari Gili Trawangan. Tidak ada bar yang buka sampai dini hari. Tidak ada kerumunan bule yang berjemur berdempetan di pasir. Tidak ada vendor yang terus menawarkan jasa dari pagi sampai sore.
Yang ada: air laut dengan kejernihan yang membuat kamu tidak percaya ini nyata, terumbu karang yang masih sangat terjaga, pasir putih yang halus dan bersih, dan ketenangan yang terasa seperti kemewahan yang semakin langka di destinasi wisata manapun.
Tapi untuk sampai ke sana, kamu perlu melewati satu tantangan yang tidak semua orang siap hadapi: perjalanan darat yang cukup panjang menuju pelabuhannya.
Kenapa Transportasi Darat Itu Penting untuk Rute Ini
Pelabuhan Tawun di Sekotong bukan tempat yang mudah dijangkau kalau kamu tidak punya kendaraan sendiri.
Dari Mataram, perjalanannya sekitar satu setengah hingga dua jam melewati jalur yang sebagian melewati jalan utama dan sebagian lagi masuk ke jalan kabupaten yang lebih sempit. Transportasi umum yang langsung menuju kawasan ini sangat terbatas hampir tidak ada pilihan praktis selain kendaraan pribadi atau sewaan.
Aku sudah coba dua pendekatan untuk rute ini. Pertama dengan motor sewaan, kedua dengan mobil sewaan. Perbedaannya bukan hanya soal kenyamanan tapi soal seberapa bebas kamu bisa menikmati perjalanannya dan seberapa fleksibel kamu bisa bergerak setelah sampai.
Dengan motor, perjalanan 50 kilometer melewati jalan yang tidak selalu mulus terasa cukup melelahkan, terutama di siang hari yang panasnya Lombok Barat tidak main-main. Barang bawaan juga sangat terbatas, dan kalau cuaca berubah di tengah jalan, tidak ada perlindungan apapun.
Dengan mobil sewaan, semua itu berubah. Duduk nyaman, AC dingin, barang bawaan masuk bagasi tanpa masalah, dan perjalanan yang tadinya terasa seperti beban justru jadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan.
Booking Kendaraan Sebelum Semua yang Lain
Perjalanan ke Gili Nanggu dan Gili Sudak kali itu aku persiapkan dengan urutan yang berbeda dari biasanya: transportasi dulu, baru yang lain.
Ini pelajaran yang aku pelajari dari beberapa trip sebelumnya. Untuk rute yang destinasi utamanya hanya bisa dicapai lewat perjalanan darat yang panjang, kendaraan adalah fondasi dari seluruh rencana bukan pelengkap yang dipikirkan belakangan.
Aku hubungi Lepas Kunci Lombok beberapa minggu sebelum berangkat. Seperti biasa, pertanyaan pertama yang aku ajukan bukan soal harga tapi soal kondisi jalan menuju Sekotong dan kendaraan apa yang paling cocok untuk rute itu.
Jawabannya informatif. Mereka menjelaskan bahwa jalur menuju Pelabuhan Tawun sebagian besar sudah cukup baik untuk kendaraan biasa, tapi ada beberapa ruas menjelang pelabuhan yang lebih nyaman dengan kendaraan yang ground clearance-nya sedikit lebih tinggi. Mereka rekomendasikan unit yang sesuai, harga dijelaskan transparan, dan tidak ada yang terasa dipaksakan.
Dari situ semua beres. Sisanya tinggal menunggu hari keberangkatan.
Perjalanan Menuju Sekotong: Yang Sering Tidak Diceritakan
Hari keberangkatan, kami berangkat dari Mataram sekitar pukul tujuh pagi. Tujuannya sampai di pelabuhan sebelum pukul sembilan supaya bisa dapat kapal pertama ke Gili Nanggu.
Rute dari Mataram ke Sekotong melewati kawasan yang jarang masuk ke konten wisata Lombok. Tidak ada pantai terkenal di sepanjang jalan itu, tidak ada bukit yang sudah punya spot foto resmi dengan papan nama. Tapi justru karena itu, perjalanannya punya karakter yang berbeda.
Setengah jam pertama melewati kawasan Lembar pelabuhan penyeberangan yang biasanya dipakai kapal dari Bali dengan pemandangan laut di sisi kanan jalan dan perbukitan kering di sisi kiri. Terus ke selatan, jalan mulai menyempit dan memasuki kawasan yang lebih pedesaan. Perkebunan kelapa, rumah-rumah dengan arsitektur khas Sasak, sesekali ada anak-anak yang melambai dari pinggir jalan.
Di satu tikungan sekitar 20 menit sebelum Sekotong, jalan tiba-tiba naik ke punggungan bukit kecil dan di depan kami terbuka pemandangan yang membuat semua orang di mobil spontan mengeluarkan suara takjub. Gugusan pulau-pulau kecil di tengah laut biru kehijauan, dengan langit pagi yang masih bersih, terlihat seperti lukisan yang tidak terlalu realistis untuk jadi kenyataan.
Itu Gili-gili di kawasan Sekotong termasuk Gili Nanggu dan Gili Sudak yang jadi tujuan kami hari itu dilihat dari daratan untuk pertama kalinya.
Kami berhenti sebentar. Foto. Diam sebentar. Lanjut.
Pelabuhan Tawun: Titik Keberangkatan yang Masih Sepi
Pelabuhan Tawun berbeda dari Pelabuhan Bangsal yang ramai dan penuh vendor. Di sini, suasananya lebih santai, lebih lokal, dan hampir tidak ada tanda-tanda pariwisata massal yang sudah menjangkiti banyak pelabuhan kecil di Indonesia.
Beberapa perahu kayu tertambat di dermaga kecil. Ada beberapa penjaga perahu yang duduk-duduk di bawah pohon, tidak terlalu agresif menawarkan jasa. Harga sewa perahu ke Gili Nanggu atau Gili Sudak bisa dinegosiasikan dengan wajar dan tidak terasa seperti pemerasan.
Kami parkir mobil di area yang sudah biasa dipakai pengunjung informasi soal tempat parkir ini aku dapat dari penyedia rental mobil Lombok yang aku hubungi sebelumnya, dan itu sangat membantu karena tidak perlu buang waktu keliling cari tempat parkir yang aman.
Perahu kecil membawa kami ke Gili Nanggu dalam waktu sekitar 15 menit. Air di bawah lambung perahu makin lama makin biru dan makin jernih.
Gili Nanggu: Ketika Ekspektasi Tidak Cukup
Begitu kaki menyentuh pasir Gili Nanggu, ada perasaan yang susah dijelaskan. Bukan karena tidak pernah ke pantai yang bagus sebelumnya. Tapi karena tidak banyak tempat yang masih terasa seutuh ini belum terlalu disentuh, belum terlalu diatur untuk wisatawan, dan masih punya kejernihan air yang membuat kamu diam sebentar sebelum melakukan apapun.
Kami snorkeling hampir tiga jam. Terumbu karangnya masih sehat dengan warna yang tidak pudar, ikan-ikannya tidak kabur dari jangkauan seperti yang sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, dan di beberapa titik kedalaman dangkal ada penyu yang berenang dengan tempo yang membuat kamu ikut melambat tanpa sadar.
Tidak ada musik dari speaker bluetooth siapapun. Tidak ada suara anak-anak yang berteriak-teriak. Hanya suara angin, suara ombak kecil, dan sesekali suara percikan air dari snorkeler lain yang juga memilih untuk tidak terlalu berisik di tempat seperti ini.
Gili Sudak: Satu Pulau Lagi yang Sama Indahnya
Sore hari, kami minta perahu untuk mampir ke Gili Sudak sebelum kembali ke daratan. Jaraknya dekat dari Gili Nanggu tidak sampai 10 menit naik perahu.
Gili Sudak lebih kecil, lebih terpencil, dan kalau bisa dibilang lebih sepi lagi dari Gili Nanggu. Di sore hari seperti itu, hampir tidak ada pengunjung lain. Pasirnya putih dan kering, pohon-pohon kelapanya tinggi menjulang dengan pelepah yang bergerak lambat ditiup angin laut.
Kami duduk di sana sampai matahari mulai turun ke arah barat. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada perahu yang menunggu dengan mesin menyala karena sopirnya punya jadwal lain.
Itu yang aku maksud soal punya kendali penuh atas perjalananmu termasuk kendali atas kapan sebuah momen berakhir.
Perjalanan Pulang: Lombok di Sore Hari
Kami meninggalkan Pelabuhan Tawun sekitar pukul lima sore. Mobil masih terparkir dengan aman di tempat yang sama seperti kami tinggalkan pagi tadi.
Perjalanan pulang ke Mataram melewati rute yang sama, tapi suasananya berbeda cahaya sore yang lebih hangat, jalanan yang lebih sepi karena sudah lewat jam sibuk, dan energi yang terasa lebih tenang setelah seharian di laut.
Di satu titik, matahari mulai turun di sisi kanan jalan arah barat, ke laut. Dari balik kaca mobil, warnanya berubah dari kuning ke oranye dalam hitungan menit.
Tidak ada yang minta berhenti. Tapi semua orang di mobil diam dan melihat ke arah yang sama.
Tips Sebelum Kamu Pergi ke Gili Nanggu dan Gili Sudak
Dari perjalanan itu, ini yang paling worth untuk kamu catat:
Berangkat sepagi mungkin. Idealnya sudah di pelabuhan sebelum pukul delapan pagi. Selain kondisi laut yang lebih tenang di pagi hari, kamu juga punya lebih banyak waktu di pulau sebelum sore tiba.
Bawa perlengkapan snorkeling sendiri kalau bisa. Di Pelabuhan Tawun tersedia penyewaan, tapi kondisinya tidak selalu prima. Masker dan snorkel milik sendiri selalu lebih nyaman.
Siapkan uang tunai yang cukup. Semua transaksi di kawasan ini sewa perahu, parkir, makan siang di warung masih tunai. Tidak ada ATM di sekitar pelabuhan.
Pesan kendaraan dari penyedia yang paham rute ini. Tidak semua layanan sewa mobil Lombok familiar dengan jalur Mataram ke Sekotong. Memilih penyedia seperti Lepas Kunci Lombok yang sudah berpengalaman dan bisa kasih informasi kondisi jalan terkini akan sangat membantu.
Jangan bawa terlalu banyak barang ke pulau. Perahu kecil dan pasir pantai bukan teman baik untuk koper besar. Bawa tas yang bisa kamu sandang, isi secukupnya.
Lombok Masih Punya Banyak Rahasia
Gili Nanggu dan Gili Sudak mengingatkan aku soal sesuatu yang kadang terlupakan di tengah semua konten wisata yang berputar di media sosial: Lombok masih menyimpan banyak tempat yang belum terlalu ramai, belum terlalu dimodifikasi untuk kepentingan foto, dan masih bisa memberikan pengalaman yang terasa seperti milikmu sendiri.
Tapi untuk menjangkau tempat-tempat seperti itu, kamu perlu lebih dari sekadar niat. Kamu perlu kendaraan yang bisa membawamu jauh dari jalur utama, ke pelabuhan kecil yang namanya tidak banyak disebut di blog wisata manapun.
Cek ketersediaan dan layanan di rental mobil Lombok sebelum kamu finalisasi rencana. Diskusikan rute yang kamu rencanakan, tanyakan kondisi jalan ke Sekotong, dan pastikan kendaraanmu sudah siap sebelum berangkat.
Karena Gili Nanggu dan Gili Sudak menunggu dan mereka menunggu kamu dengan cara yang Gili Trawangan tidak lagi bisa tawarkan.
